Info Sekolah
Senin, 23 Feb 2026
  • NPSN: 20223817 | Alamat: Jl. Raden Saleh No. 45 Depok - Jawa Barat
  • NPSN: 20223817 | Alamat: Jl. Raden Saleh No. 45 Depok - Jawa Barat
22 Februari 2026

RAMADHAN WALUYA: Sebuah Refleksi Diri

Ming, 22 Februari 2026 Dibaca 84x

Tulisan ini bermula dari sebuah pertanyaan pemantik bagi penulis, kenapa puasa hanya diwajibkan Allah Swt  sekali setahun di bulan Ramadhan? Ada apa dengan Ramadhan?

Melalui tulisan ini Penulis ingin menjawab  pertanyaan pemantik   tersebut dalam beberapa paragrap yang mencerminkan Ramadhan Waluya.

Ramadhan Waluya merupakan interpretasi penulis untuk menggambarkan keagungan bulan Ramadhan, karena Ramadhan adalah bulan Tajalli (Penampakan rahmat Allah Swt). Allah memilih Ramadhan sebagai bulan khusus menjalankan kewajiban puasa dan bulan diturunkannya Al-Qur’an, maka rahmat Allah Swt di bulan ini sangat melimpah ruah. Pahala ibadah dilipatgandakan, dosa-dosa dihapuskan, ampunan dan kasih sayang dicurahkan.

Ramadhan adalah bulan Tazkiyatun Nafs (Penyucian jiwa), bulan ini kita dilatih untuk mempertebal kesadaran diri bahwa kita hanyalah seorang hamba, dan merasakan Fana (melemahkan ego), sehingga kita tunduk terhadap perintah puasa dari Allah Swt. Berpuasa satu bulan penuh di Ramadhan ini merupakan madrasah ruhani intensif bagi kita, karena  ruhani butuh di naikkan  derajatnya di sisi Allah Swt.

Tazkiyatun Nafs dalam Ilmu Tasawuf menilai ibadah puasa sebagai “sarana mematikan nafsu menghidupkan ruh”. Dalam Hadis Qudsi Allah Swt berfirman: “Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya”. Maka puasa itu bukan sekedar menahan lapar dan haus, tapi menahan nafsu amarah, syahwat, riya, sombong, iri dengki, dan sifat-sifat buruk lainnya sehingga ruhani bisa hidup dan naik derajat di sisi Allah Swt.

Puasa satu bulan penuh berarti kita mengosongkan diri agar Allah Swt mengisinya dengan kesadaran diri, membersihkan hati kita yang sudah berkarat dari penyakit hati sehingga arah tujuan hidup kita kembali sesuai kehendak Allah Swt. Jika puasa wajib terus menerus akan melemahkan fisik dan sosial manusia, oleh karena itu 11 bulan di luar Ramdhan manusia dipersilahkan tidak berpuasa. Maka Allah Swt hanya mewajibkan satu tahun sekali yaitu di bulan Ramadhan untuk perbaikan fisik dan ruhani manusia. Apabila ada yang melaksanakan puasa sunah di luar bulan Ramadhan, maka itu sebagai tambahan nilai di sisi Allah Swt. Seperti servis sebuah kendaraan, maka hati kita pun perlu di servis minimal setahun satu kali agar hati kita  layak menjadi kemudi di jalan kehidupan dunia dan selamat menuju  kehidupan akhirat.

Keselamatan  hidup dunia dan akhirat akan kita raih ketika  11 bulan di luar Ramadhan  diimplementasikan seperti di bulan Ramadhan. Sejatinya Ramadhan itu Syahru Riyadhah (bulan latihan) agar di luar Ramadhan kita menjadi manusia Insan Kamil (Manusia Waluya) di hadapan Allah Swt. Manusia Waluya adalah manusia yang seimbang antara jati diri kemanusiaannya dan kehendak Ilahi, sebagai hamba yang beriman, bertakwa, cerdas lahir batin, sehat jasmani dan ruhani, pandai memilah yang baik adalah baik untuk diikuti dan yang salah adalah salah untuk dihindari serta selalu berinovasi dalam mewujudkan kehendak Ilahi sebagai khalifah (pemimpin dan pelestari)  bumi.

Kesimpulan dari tulisan ini adalah Ramadhan Waluya jika dimaknai dengan penuh hikmah dan diwujudkan dalam sikap, lisan, serta perbuatan akan melahirkan manusia  sempurna lahir dan batin atau Insan Kamil (Manusia Waluya) sesuai kehendak Sang Maha Pencipta yang menginginkan manusia mampu merawat diri lahir dan batin serta merawat alam  agar selaras dengan tujuan penciptaannya. Walaupun kesempurnaan itu milik Sang Pencipta, namun tidak ada salahnya jika kita berusaha menuju kesempurnaan sesuai batas kemampuan. Semoga tulisan sederhana ini dapat merefleksi penulis khususnya dan umumnya bagi pembaca dalam meningkatkan kesadaran  sebagai hamba yang selalu butuh kepada bimbingan dan kasih sayang dari Allah Swt agar mampu berusaha menuju  Insan Kamil (Manusia Waluya).

Depok, 22 Februari 2026